ULASAN SINGKAT TRADISI YASINAN & TAHLILAN

Menurut pemuka agama Islam, kegiatan Yasinan dan Tahlilan merupakan media dakwah yang cukup efektif dalam merangkul atau mengajak masyarakat yang jarang ke masjid untuk mengikuti pengajian membaca Yasin dan Tahlil di masjid-masjid, ataupun di rumah-rumah penduduk.

Ini sangat penting dalam rangka menegakkan ukhuwah Islamiyah dan memelihara hubungan antara penduduk.

Di daerah saya, kegiatan rutin mengaji bacaan Yasin dan Tahlil sudah membudaya, yang rutin dilakukan pada Kamis malam dan Jumat secara bergiliran. Dalam yasinan dan tahlilan biasanya diselingi dengan siraman rohani atau ceramah yang bertujuan agar masyarakat umum mengetahui hal-hal yang belum diketahui secara agama, setelah selesai pengajian yasinan dan tahlilan biasanya diadakan juga jamuan bersama dengan tujuan memelihara kekompakan dan persahabatan antar warga.

Kata TAHLILAN berasal dari bahasa Arab TAHLIL, akar dari kalimat HALLALA YUHALLILU TAHLIILAN yang artinya mengucapkan kalimat Tahlil (laa ilaaha illallaah). sedangkan YASINAN adalah acara pembacaan Surat Yasin yang biasanya dirangkaikan dengan tahlilan, di kalangan umat sendiri menurut Ust. Effendi (pemuka agama) istilah Yasinan dan Tahlilan populer digunakan untuk menyebut acara dzikir bersama, doa bersama atau majelis dzikir.

Singkatnya, acara tahlilan, dzikir kolektif, dzikir majelis atau doa bersama adalah ungkapan yang berbeda untuk merujuk pada kegiatan yang sama, yaitu kegiatan individu atau kelompok untuk berdzikir kepada Allah SWT, pada hakikatnya Tahlilan dan Yasinan adalah dzikir kepada Allah SWT.

Biasanya untuk memudahkan tamu yang hadir mengikuti acara, akan dibagikan buku tahlilan yang bisa dibaca oleh setiap orang yang datang ke acara tersebut. Pihak keluarga biasanya akan mencetak buku tahlil ini di percetakan.

Jika anda mau membuat buku tahlil ini; anda bisa memesannya secara online. Saat ini ada banyak layanan jasa cetak buku tahlil yang menawarkan jasa cetak buku tahlil atau juga buku yasin.

Nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam tradisi yasinan dan tahlilan ikut membentuk solidaritas mental. Dimana manusia meyakini bahwa dosa-dosanya terhadap sesama manusia dapat dihapuskan dan ditutupi dengan amalan-amalan baik yang dilakukan selama hidup di dunia dengan bertindak sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan Al-Hadits, sehingga dalam konsep filsafat, sebagai manusia yang tidak bisa hidup sendiri yang membutuhkan orang lain, harus saling membantu sesama umat Islam, sehingga dapat mempersatukan umat Islam secara utuh dan terhindar dari konflik.

Author Image
brajakelono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *